malisme pada pria

Mallism (Malisme)

Mallism atau malisme merupakan suatu paham pada kaum urban dalam memanjakan keinginan dan kebutuhan mereka di tempat keramat nan eksotis yang bernama mal.

Kepercayaan mereka adalah “Buying is Great“. Silanya ada dua yaitu “Consuming is Good” dan “Buying is Great”.

Menurut mereka, hasrat membeli dan mengonsumsi harus dimanjakan, dibebaskan, dan dilepaskan.

Tidak boleh ditahan-tahan. Kalau ditahan nanti bisa menjadi penyakit seperti, bisul dan jerawat.

Namun pertanyaannya, kenapa buying itu dianggap “great”, sedangkan consuming hanya “good”?

malisme

Jawabannya sederhana. Bagi mereka yang terpenting adalah “beli-beli-beli” saja. Perihal nanti barang yang dibeli akan dikonsumsi atau tidak, itu urusan belakangan.

Yang penting “pengen-pengen-pengen“. Soal apakah barang yang diinginkan memang dibutuhkan atau tidak, itu masalah nanti.

Malisme: “Want” Is Far More Important than “Need

Malisme ini biasanya hinggap di kaum hawa. Beberapa jenis produk yang digandrungi antara lain, tas backpack, tas selempang besar, tas selempang sedang, tas selempang rada kecil, tas untuk kondangan, tas untuk seminar, tas kalau membawa bayi.

“Wow… tas semua ini.” Buat saya, semuanya tas. Akan tetapi, buat istriku itu masing-masing produk yang berbeda.

Bukan cuma itu, produk mallism lainnya berupa kosmetik, sepatu, jam, kacamata, dan lain-lain.

Kalau laki-laki mungkin hanya mainan atau gawai.

Anda mungkin pernah merasa kalau iPhone atau Samsung terbaru keluar, rasanya ingin banget memiliki.

Kemudian, Anda langsung mencari review di YouTube tiap-tiap hari. Mulai membaca artikel-artikel tentang produk, hingga diskusi dengan orang-orang yang sudah punya.

malisme pada pria

Hal tersebut seperti mendatangkan kebahagiaan tersendiri. Namun, saat sudah membeli, rasanya jadi biasa saja.

Sekarang, hal-hal di atas sudah tidak pernah saya lakukan lagi.

Sedemikian kecanduannya, dulu saya pernah sampai membeli ponsel 10 kali dalam setahun. Pakai sebentar terus dioper. Akan tetapi, alhamdulillah sekarang saya sudah sembuh.

Saya jadi teringat kata seorang ustaz.

Semua akan terasa indah jika belum dimiliki. Inilah dunia. Kebahagiaannya bukan pada materi. Tidak akan puas kalau mengejar materi. Mau sampai kapan pun.

Sekarang, kalau saya mau membeli apa pun, saya akan berpikir terlebih dahulu.

“Ah, ini mah, senangnya hanya sebelum beli saja. Pas sudah beli paling biasa saja.”

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.