rencana keuangan

Belajar Pengelolaan Keuangan Keluarga

Sejak 7 tahun yang lalu, dari 2013, saya sudah meminta istri untuk belajar mengenai pengelolaan keuangan keluarga.

Sebagai yang belum belajar pengelolaan keuangan, waktu itu ia shock sekali. Tiba-tiba harus disiplin dan ketat soal keuangan.

Kondisinya memang harus ketat, karena saat itu jumlah utang saya 42 kali lipat dari gaji bulanan.

Utang karena bangkrut dan tertipu orang. Kalau saya tidak mau menurunkan pengeluaran dan menaikkan pemasukan, mungkin butuh 20 tahun baru lunas semua utang tersebut.

Saya ingat betul, sehari hanya dikasih jatah Rp50 ribu untuk makan di kantor, bensin, jajan, dan lain-lain.

Bujet untuk hiburan seperti menonton bioskop dan lainnya hanya maksimal 2 kali dalam sebulan.

Kalau mau hiburan jalan-jalan ke Mall, kami harus makan dulu di rumah supaya tidak jajan lagi di Mall.

pengelolaan keuangan keluarga

Semangatnya ingin menjadi keluarga yang melek akan pengelolaan keuangan keluarga.

Isteri akhirnya mengikuti Workshop Financial Planning. Buahnya adalah pembatasan jajan bulanan, bensin, pulsa, dan lain-lain.

Ia jadi tahu kalau harus menyiapkan berbagai alokasi dana darurat, persiapan kelahiran anak, persiapan sekolah anak, asuransi kesehatan, dan lainnya.

Upaya tersebut tujuannya supaya di kemudian hari kami tidak merepotkan siapa pun jika ada kebutuhan mendadak.

Pengelolaan Keuangan Keluarga (Financial Planning)

Berbicara tentang Financial Planning adalah bicara tentang pengorbanan.

Kata kuncinya adalah seberapa kuat Anda berkomitmen untuk konkret merencanakan, mencatat, dan mengelola keuangan.

Meskipun secara psikologis, manusia lebih suka bersenang-senang hari ini (instant gratification) daripada menunda demi kesenangan yang lebih besar di masa depan. Betul, enggak?

Saya bahkan rutin mencatat pengeluaran sampai sekecil-kecilnya. Biaya admin bank saja dicatat.

rencana keuangan

Untuk pencatatan bisa menggunakan berbagai aplikasi yang ada. Biasanya saya menggunakan Aplikasi Money Manager.

Kebanyakan orang, maunya financial freedom, tetapi tidak mau mengencangkan ikat pinggang untuk menahan pengeluaran yang tidak perlu.

Orang yang seperti itu hanya fokus di hasil akhir tanpa mau ikhtiar keras di awal.

Pertanyaan yang muncul biasanya seperti ini:

“Apanya yang mau dikelola kalau duitnya aja tidak ada atau masih sedikit?”

Jawaban saya:

“Kalau mengelola uang Rp5 juta atau Rp10 juta per bulan saja sudah tidak mampu, bagaimana Allah Swt. mau memberi amanah mengelola dana Rp1 miliar per bulan?”

Ikhtiar kita adalah dengan memperbesar wadah melalui finansial literasi. Selanjutnya kita tunggu keajaiban-Nya.

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.