financial planning

Rumus Budgeting 40/30/20/10 vs 10/30/60

Saya pernah membuat tulisan mengenai pengelolaan cashflow rumah tangga dengan menggunakan rumus budgeting: 40% needs, 30% wants, 20% savings, dan 10% charity.

Rumus ini sifatnya umum, bisa diikuti berbagai kalangan. Akan tetapi, saya pernah tidak sengaja menemukan tulisan yang katanya viral, mengenai pengelolaan cashflow.

Hal yang menarik, rumusnya tidak umum, yakni: 60% tabungan, 30% untuk jaga-jaga, dan 10% untuk biaya hidup.

Faktanya, rumus budgeting tersebut jarang yang bisa mengikuti lantaran penerapannya yang sangat sulit. Akan tetapi, rumus tersebut viral dengan 3500 share.

Akhirnya pas saya mengecek respons share dan komentarnya, sebagian besar ternyata memberi komentar yang sedikit “mencaci” dan tendensi meledek.

rumus budgeting

Secara logika awam, bagaimana caranya hidup dengan 10% pemasukan saja. Kalau pemasukannya 10 juta bagaimana? apalagi kalau cuma 7 juta.

Nah kalau pemasukan teman-teman masih dibawa 10 juta, aplikasikan saja rumus yang umumnya bisa diterapkan. Kalau masalah porsinya bisa diatur-atur lagi.

Biaya hidup 2 juta apakah bisa? Bisa banget.

Apalagi kalau masih sendiri, mengekos, tidak ada cicilan, dan kebutuhan lain-lain sehingga belum terpapar oleh “tuntutan sosial”.

Jadi kalau 10% dari penghasilan adalah 2 juta, maka total pendapatan Anda adalah 20 juta. Nominal tersebut masih achieveable bagi sebagian orang.

Pengalaman Menerapkan Rumus Budgeting

Sebenarnya arah pembahasan saya tidak seperti itu. Saya ingin bercerita kalau sejak tahun 2013 sudah mulai rapi melakukan pencatatan keuangan, semua uang keluar dan masuk dicatat.

Kemudian, ketika saya mengecek beberapa tahun ini, ternyata pengeluaran rumah tangga saya hanya di bawah 10% dari pengeluaran total tahunan.

Beberapa tahun kebelakang ini, 90% pengeluaran saya lebih untuk pertanahan, investasi, dan bisnis.

Padahal, pada tahun yang sama tercatat ada pengeluaran membeli mobil sampai tiga buah, jalan-jalan ke luar negeri setahun tiga kali.

Dari situ saja sebenarnya saya bisa membuat tulisan tentang pengelolaan keuangan yang 90:10, tetapi tidak semua orang bisa mengikuti.

Kebanyakan masyarakat lebih suka sensasi atau gimmick, bukan yang fundamental.

financial planning

Pantas saja, kemarin saat saya bertanya ke teman dekat, kurang lebih jawaban tersiratnya seperti ini:

“Saya mau buka kelas nih”

“Kelas apa, bro?” Teman saya bertanya balik.

Fundamental pengelolaan keuangan. Financial planning, investment management, dan wealth creation. Perpaduan teori dan yang sudah saya praktikkan selama 10 tahun ke belakang. Kasihan, banyak teman yang sering tertipu program investasi, banyak juga yang pengelolaan keuangan keluarganya berantakan.”

“Hmm, tidak bagus, bro. Coba bikin yang seperti ini:

Bagaimana cara transaksi lahan puluhan hektar dengan pendekatan teknik negosiasi?

Cara jual beli tanah dalam 3 bulan untung 300%.

Beli tanah tanpa modal, untung miliaran pakai duit investor.”

:Hmm.. Kalau seperti itu tidak jadi, deh buka kelasnya. Concern saya di fundamental. Bukan di gimmick.

Nah, kalau kalian mau gimmick atau fundamental nih? Jangan lupa rumus budgeting-nya dicoba, ya!

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.