strategi sewa properti

Strategi Menyewakan Properti

Saya belajar sedikit mengenai strategi menyewakan properti. Mungkin dari cerita saya ini, Anda bisa mendapatkan manfaatnya.

Jadi, pagi ini saya diskusi sama istri mengenai sebuah brand besar yang tutup di Balikpapan 3 tahun yang lalu.

Katanya alasan tutup disebabkan uang sewa yang dinaikkan oleh pemilik tempat. Angkanya cukup tinggi, yakni dari Rp2,4 miliar menjadi Rp3,4 miliar per tahun.

Saya lupa angka pastinya, tetapi kurang lebih sekitar nominal yang saya sebutkan tadi.

Akibat pemilik lokasi yang bersikeras menaikkan harga sewa dan tidak juga mencapai titik temu, akhirnya si penyewa pun pergi.

Sampai kemarin saya masih melihat papan bertuliskan “disewakan” di depan properti itu.

strategi menyewakan properti

Lantaran ngotot menaikkan harga sewa, alhasil malah kehilangan pemasukan sewa 3 tahun.

Kalau dihitung kira-kira si pemilik tempat rugi Rp2,4 miliar x 3 tahun karena ingin mendapatkan angka yang lebih tinggi (selisih dari Rp3,4 miliar dikurangi Rp2,4 miliar).

Saya tidak tahu, apakah si pemilik properti menyesal atau tidak.

Kejadian semacam itu membuat saya tidak habis pikir. Kenapa bisa orang begitu? Memangnya ia tidak memakai analisis keuangan, mempelajari strategi menyewakan properti, dan lain-lain?

Belajar Strategi Menyewakan Properti dari Pengalaman

Soalnya, dahulu saya pun pernah mengalami hal yang sama. Saya pernah menyewa ruko di Depok senilai Rp45 juta setahun.

Ketika kontrak sudah mau usai, pemiliknya meminta agar harga sewa dinaikkan menjadi Rp55 juta.

Sudah dinegosiasikan agar kenaikan cukup di angka Rp48 juta, pemilik ruko tetap tidak mau. Akhirnya, saya tidak jadi melanjutkan sewa.

Dampaknya, selama 1 tahun ruko itu tidak juga laku disewa orang.

Analisis keuangannya begini:
Harga sewa yang diinginkan pemilik sebesar Rp55 juta per tahun setara dengan Rp4,6 juta per bulan.

strategi sewa properti

Jika selama 1 bulan tidak ada penyewa, dia kehilangan opportunity Rp4,6 juta. Kalau 2 bulan saja tanpa penyewa, ia kehilangan lebih dari Rp9,2 juta.

Selisihnya lebih besar ketimbang kalau dia tetap menyewakan ruko ke saya (hitungannya Rp55 juta dikurang Rp48 juta) yaitu Rp7 juta.

Karena menolak negosiasi harga, akhirnya dia kehilangan Rp48 juta karena selama setahun itu tidak ada penyewa. Entahlah, mungkin kerugiannya lebih besar.

Di sinilah diperlukan teknik negosiasi di mana dasarnya memakai analisis keuangan.

Nah, menurut kalian strategi menyewakan properti yang paling baik bagaimana? Kasih harga murah dahulu atau bagaimana?

Walaupun sekarang belum punya properti, tetapi berpikir seperti orang yang memilikinya adalah salah satu bentuk “Law of Attraction”.

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.