belajar dari pengalaman

Sugestif Destruktif

Sugestif destruktif, salah satu mental yang bahaya banget kalau dibiarkan.

Khususnya kalau Anda sedang merintis bisnis atau apa pun itu. Apa maksud dari istilah sugestif destruksif ini?

Apa Itu Sugestif Destruktif

Jadi begini, orang yang sering gagal punya kecenderungan sugestif.

Apalagi kalau dari awal kita mencoba sesuatu, ternyata malah terus-menerus gagal atau sering berhasil, tetapi masih naik turun.

Biasanya orang-orang yang sayang sama Anda tidak tega melihat kondisi kita yang sedang begitu.

Alasannya, karena mereka merasa kita sudah sampai titik “end” dan menderita, bukannya sedang berproses dan belajar. Mentalnya berbeda.

sugestif destruktif

Dengan baiknya, mereka akan memberi sugesti-sugesti ampuh seperti:

“Sudahlah, kamu enggak usah bisnis, toh gagal terus kan, kayak si anu ajah, kerja dapat duit jelas, hidup tenang.”

Atau

“Maaf yah, kamu tuh emg ga bisa bisnis, ngerjain yg kecil2 ajah ga bisa, udah ga usah bermimpi yg besar-besar dulu.”

Atau

“Baiknya, sih sekarang kamu fokus kuliah dulu.”

Atau

“Baiknya, sih sekarang kamu kerja dulu, klo udah ada modal baru bisnis”

dan banyak lagi… Baiknya… Baiknya….

Secara tidak langsung kalau Anda terus-menerus mendengarkan kalimat semacam tadi, maka akan menjadi sugesti yang masuk ke dalam alam bawah sadar kita.

Lambat laun kalimat tersebut bakal membuat mental-block. Itulah yang disebut dengan sugestif destruktif. Sugesti yang bisa menghancurkan mental Anda.

Anda pun jadi penakut! Terlalu penuh perhitungan! Takut bermimpi! Takut mengambil risiko!

Ditambah timbulnya rasa takut akan kegagalan yang sangat besar.

Beberapa Solusi

Berikut ada beberapa solusi dari Papagon. Silakan tambahkan di kolom komentar, ya! Inilah solusinya:

saran sugestif destruktif

1. Biar tidak begitu sakit waktu mengalami kegagalan, cobalah memulai segala sesuatu dari yang kecil-kecil saja yang simpel dan berisiko rendah. Bertahap, lalu ikuti hukum proses dan jangan menjadi serakah.

2. Jangan terlalu nafsu, belum jadi apa-apa sudah mau ekspansi. Baru untung sedikit sudah mengembangkan yang macam-macam.

Biasanya terjadi di mereka yang sering seperti, bisnis A belum stabil sudah membuka bisnis B.

Akhirnya, bisnis B merugi sehingga berimbas ke bisnis A. Contoh lainnya, baru mulai buka 1 bulan terus mendapat “honeymoon omzet” langsung membuka cabang, mengajak investor, dan lain-lain.

3. Yakinkan diri kalau berbisnis itu ada untung dan rugi. Mana yang lebih besar antara untung dan rugi, tergantung keterampilan Anda masing-masing. Terus belajar, Bos.

4. Gagal adalah proses belajar, dan belajar biasanya memerlukan biaya. Seberapa besar biaya (kerugian) yang kita keluarkan, maka sebesar itu level Anda di dalam bisnis.

Ada yang Rp1 juta, Rp10 juta, Rp200 juta, Rp10 miliar, dan lain-lain. Mau di mana level Anda? Siap membayar uang belajar-nya? Berat!

5. Terakhir, kalau mengalami kegagalan, curhatnya sama Allah Swt. saja. Dengan Allah Ta’ala boleh mengadu semuanya dan menjelaskan secara spesifik, habis itu baru ke mentor bisnis atau ustaz.

Curhat ke rekan-rekan pengusaha juga bisa. Namun, kalau ke yang lain seperti keluarga, teman, dan lain-lain, lebih baik kulit-kulitnya saja.

Karena secara tidak langsung, mereka akan membuat Anda mengalami sugestif destruktif seperti yang saya bilang di atas. Sama mereka, minta didoakan saja.

Sudah, itu saja saran dari saya. Gagal itu pasti, karena itulah teman lama dari seorang pengusaha.

Namun, bagaimana strategi Anda untuk bisa bangkit kembali, yang harus dipelajari.

Sedikit Nasihat Buat Anda

Tidak ada yang bisa mengalahkan pengalaman. Tidak bakat, bukan juga keberuntungan, apalagi momentum.

Hanyalah keringat, tangisan, kerja keras, jatuh, berdarah, dan tetap bangkit ketika yang lainnya menyerah.

belajar dari pengalaman

Karena yang disebut pengalaman adalah kemampuan untuk mengulangi kegagalan berkali-kali hingga menemukan kesuksesan. Ini kata Michael Jordan dan saya rasa kalian mengenal dia.

“Seni kehidupan adalah mengatasi masalah ketika ia muncul, bukannya menghancurkan semangat dengan mencemaskan hal-hal yang terlalu jauh di depan. Terutama saat ini.”

Marco T. Cicero, konsulat Roma sebelum Julius Caesar

Baca novelnya yang berjudul Imperium, keren banget, deh!

Segitu dulu dari saya. Sekarang saya mau tanya, bagaimana caramu mengatasi kegagalan baik dari mental dan materi? Jawab di kolom komentar, ya!

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.