instrumen investasi

Tertipu Program Investasi, Begini Cara Mengujinya

Korban yang tertipu program investasi jumlahnya tidak pernah surut. Ibaratnya, selesai satu kasus, muncul lagi puluhan kasus. Sebagai contoh yang dekat ada di dekat Anda.

Anda pernah investasi proyek atau bisnis ke orang terdekat? Pernahkah berujung tidak jelas?

Sampai-sampai Anda sendiri tidak tahu apakah bisnis tersebut berjalan atau mungkin bangkrut. Orang tersebut hilang sama sekali, tidak ada laporan, tidak pula memberi kabar. Akhirnya, rusaklah silaturahmi.

Saya pernah mendapatkan curhatan dari seorang teman yang tertipu program investasi. Cerita ini saya dapatkan dari salah satu teman di komunitas.

Ada seseorang yang ditinggal wafat pasangannya, dan memperoleh warisan harta yang jumlahnya besar.

Entah karena banyak orang yang tahu soal warisannya atau lantaran takut harta akan tergerus kalau didiamkan saja sehingga dia bertindak impulsif dan banyak berinvestasi.

investasi

Sayangnya, semangat berinvestasi tersebut tidak diiringi pengetahuan tentang investasi yang tepat.

Kini banyak program investasi yang dia danai statusnya tidak jelas.

Total sekitar 1,5 miliar rupiah telah ia keluarkan untuk mengikuti berbagai program investasi. Wow, itu nominal uang yang tidak sedikit!

Kasus seperti ini ternyata bukan hanya dia yang mengalami. Ada beberapa orang lain yang juga mengalami, bahkan mungkin salah satu di antara teman-teman yang membaca artikel ini pernah mengalaminya.

Sudah lama mengumpulkan duit, lalu hilang dalam sekejap, tertipu program investasi.

Langkah-Langkah Sebelum Berinvestasi

Seperti yang sering saya katakan, jangan berinvestasi jika belum mempunyai ilmunya. Lebih baik menabung saja dahulu ketimbang duitnya hilang karena berinvestasi tanpa ilmu.

Anda harus memahami bahwa langkah pertama dari melakukan investasi adalah Financial Literacy. Sisihkan waktu untuk mempelajari terlebih dahulu ilmu tentang investasi dan keuangan.

Investasi Itu tidak sekadar menitipkan uang kepada teman atau orang yang dipercaya. Kemudian, uang Anda kembali seutuhnya ditambah dengan keuntungan. TIDAK!

Setelah Financial Literacy, langkah kedua adalah melakukan Financial Check-Up dan Financial Planning secara komprehensif.

Kalau Anda tidak bisa melakukannya sendiri, sewalah jasa dari Financial Planner yang sudah mempelajarinya secara komprehensif.

belajar ilmu investasi

Dua hal tersebut digunakan untuk memeriksa kondisi keuangan Anda yang sebenarnya.

Apakah ada uang yang tersedia untuk diinvestasikan? Jangan-jangan ketika diperiksa, ternyata kebutuhan pokok saja masih belum terpenuhi.

Banyak yang belum ngeh tentang status keuangan. “Sedang ada di posisi mana nih kondisi saya?”

Belum lagi soal dana darurat, dana pendidikan anak, dan dana-dana kebutuhan lain yang tidak jelas apakah sudah tersedia atau belum.

Langkah ketiga adalah dengan melakukan due dilligence terhadap instrumen investasi yang akan kita ikuti.

Belajar dari Coach Imam Elfahmi, setidaknya ada lima aspek yang harus kita uji sebelum memutuskan untuk menaruh uang di suatu instrumen investasi.

Instrumen tersebut, yaitu aitu aspek legal, rasional, profesional, strategi yang jelas, dan etika kehalalan.

Menguji Instrumen Investasi

aspek legal

1. Aspek Legal

Cek dahulu apakah sudah ada izin dari pihak yang berwenang.

Lalu, cek juga perihal perjanjian di notaris dan legal drafting dari instrumen investasi tersebut. Detail SOP/KPI juga harus dipastikan sudah tersedia.

2. Rasional

Sebelum berinvestasi, kita pasti ditawarkan berbagai angka soal instrumen investasi tersebut.

Coba hitung dengan detail dan bijak, apakah semua perhitungan yang ditawarkan memang masuk akal?

Hindari yang too good to be true atau janji-janji surga seperti: pasti untung, tidak ada risiko. Pastikan semua perhitungan jelas dan tidak ada spekulasi.

Tanyakan juga mengenai studi kelayakan bisnis atau investasinya. Jangan lupa cek juga risk management yang dilakukan.

instrumen investasi

3. Profesional

Apakah penawaran Investasi ini profesional? Biasanya saya mengecek dengan memastikan apakah penyedia investasi sudah mempunyai organisasi bisnis yang kuat atau belum.

Selain itu juga perhatikan orang-orang di dalamnya. Apakah bisnis ditangani oleh orang yang kompeten dan dikelola secara profesional?

Kemudian, apakah Core Competence yang dipunyai sesuai dengan bisnis yang dijalankan?

Terakhir, cek kembali track record dari bisnis dan orang-orang yang menjalankannya.

4. Memakai Ilmu dan Strategi yang Jelas

Jika ditawari proposal Investasi, saya akan meneliti metode apa yang dipakai.

Kemudian, memastikan strategi apa yang digunakan untuk mencapai omzet yang diasumsikan. Mulai dari strategi marketing, produksi, dan lain-lain. Semua harus jelas.

tertipu program investasi

5. Etika dan Halal

Pastikan kalau tidak ada pihak yang akan berpotensi dirugikan. Bisnis juga tidak mengambil hak atau peluang orang lain.

Selanjutnya, pastikan bisnis tidak mengundang reaksi negatif dari pihak lain dan tidak berbenturan dengan kepentingan orang lain. Carilah yang halal dan thoyib.

Banyak bukan yang harus Anda pelajari sebelum berbisnis? Susah? Memang seperti itu.

Lebih baik pahit di awal supaya ke depannya manis. Jadi kalau Anda sering tertipu maupun ditipu, tanyakan sama diri sendiri, siapa yang salah, ya?

Kalau Anda ditipu sekali, Shame on You.
Kalau Anda ditipu dua kali, Shame on Me.

Tidak belajar dan masih merasa kalau investasi itu hal yang gampang? Sat set sat set, selesai. Ujungnya, ya selesai. Selesai. The End.

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.